Setelah Nikah, Tinggal di Sekitar Garkot Rasanya Lebih Nyaman daripada Hidup di Kampung yang Bikin Was-Was

Ella_travelku Pinterest

Setelah menikah, salah satu keputusan terbesar yang saya ambil adalah menentukan di mana saya dan istri akan membangun “hari-hari” kami.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada sebuah perumahan di Karangpawitan, yang lokasinya berdekatan dengan Garut Kota (Garkot).

Per 1 Juni 2026, sudah satu tahun kami menetap di sini. Dan kalau boleh jujur, rasanya nyaman sekali.

Keputusan tersebut makin terasa benar saat saya membandingkannya dengan dinamika tinggal di kampung, yang bagi saya sering was-was tiap kali mau melangkah keluar rumah.

Kemewahan

Tinggal di sekitaran Garkot ini menyenangkan sekali. Sebagai orang yang bekerja di rumah, daerah ini merupakan surga kecil.

Hampir di setiap sudut jalan selalu ada coffee shop estetik yang nyaman buat WFC atau sekadar nongkrong aja bareng istri.

Garut ini unik. Dengan UMK yang berada di bawah Rp2,5 juta, biaya hidup di sini relatif terjangkau.

Nah, dengan penghasilan saya sebagai praktisi digital yang berada di atas angka itu, saya dan istri bisa menikmati gaya hidup yang bisa dibilang “mewah” untuk standar lokal.

Mau cari hiburan?

Banyak event seru di Garkot yang bisa kami datangi. Mau jalan-jalan pun gampang banget; akses GoCar selalu siap sedia dan stasiun kereta dekat sekali dari rumah.

Belum lagi banyaknya tempat hidden gem atau destinasi wisata mempesona yang jaraknya cuma selemparan batu.

Kota ini benar-benar layak ditinggali kalau kamu punya penghasilan mumpuni di atas rata-rata UMK-nya.

Kontrasnya Realitas Tinggal di Kampung

Kondisinya bakal 180 derajat berbeda kalau saya memilih tinggal di kampung. Bukannya benci, tapi ada realitas karakter yang sulit saya kompromikan.

Kalau di kampung, saya pasti bakal lebih banyak diam di dalam rumah karena minimnya tempat pelarian seperti coffee shop. Tapi masalahnya, diam di rumah pun nggak lantas bikin tenang.

Keluar pagar sedikit saja, rasa was-was langsung muncul. Orang kampung itu terkenal ramah, tapi sering kali keramahan itu kebablasan jadi rasa kepo yang melebihi batas.

Mau pergi ke mana saja ditanya detail, bahkan pertanyaan sensitif seperti “Istrinya sudah hamil belum?” bisa jadi menu obrolan sehari-hari di depan rumah.

Bagi saya yang butuh ketenangan mental untuk berpikir kreatif, lingkungan seperti itu sulit buat bikin berkembang.

Karakter lingkungannya seolah menolak perkembangan zaman atau enggan untuk hidup maju. Memang nggak semua kampung seperti itu, tapi saya yakin banyak dari kamu yang relate dengan karakter ini.

Sendiri, tapi Berkualitas

Sejak memutuskan tinggal di pinggiran kota yang dinamis ini, hidup saya berubah ke arah yang jauh lebih baik. Fakta menariknya: penghasilan saya justru bertambah.

Saya nggak perlu lagi stres memikirkan omongan orang atau urusan orang lain yang nggak penting.

Efek dari pikiran yang tenang dan bahagia ini luar biasa—bahkan berat badan saya sampai naik karena hidup terasa begitu rileks.

Di sini, saya memang tidak punya banyak teman. Lingkungan perkotaan membuat orang lebih menghargai privasi masing-masing. Tapi di dalam kesendirian itu, hidup saya justru menjadi sangat berkualitas.

Saya dan istri bisa lebih fokus pada diri sendiri, menata masa depan, mengurus bisnis, dan menikmati hidup dengan cara yang kami sukai.

Pada akhirnya, rumah yang nyaman itu bukan cuma soal bangunan, tapi tentang lingkungan yang memberi kita ruang untuk bernapas dan bertumbuh tanpa perlu was-was dihakimi. Dan bagi kami, kenyamanan itu ada di sini, di pinggiran Garut Kota

Ridwansyah

Pendiri media Penulis Garut dan berprofesi sebagai full time writer. Penulis dapat disapa melalui laman Instagram @aaridwan16.